Tag

, , , , , , ,

Tersinggung rasanya membaca thread sebuah forum terkait dengan perempuan dan pakaiannya, dan mengenai hubungan pakaian dengan kasus pemerkosaan. Padahal baru saja beberapa waktu lalu kita mendengar komentar yang tidak mengenakan dari beberapa orang  berkenaan dengan kasus serupa (silahkan diingat-ingat kembali).

Kita semua mungkin sudah mendengar kasus kekerasan terhadap perempuan yang akhir-akhir ini meningkat, terutama kasus pemerkosaan dengan kenaikan sebesar 13,3 persen untuk wilayah Jakarta saja (sumber: republika.co.id). Menurut komnas perempuan malah kasus pemerkosaan menempati peringkat pertama yang sering terjadi, dengan jumlah korban sebesar 4.391 perempuan alam kurun waktu 1998-2011 (sumber: beritabatavia.com)   Lebih miris lagi, membaca atau mendengar komentar-komentar bernuansa “pro” terhadap tindakan pelaku, dengan meletakkan penyebab tindakan tersebut pada perempuannya dan pakaian yang dikenakannya. Saya pikir akan ada revolusi paradigma, tetapi kenyataannya adalah evolusi, bukan revolusi. Artinya, masih membutuhkan waktu yang akan sangat lama.

Fashion dari zaman ke zaman selalu berubah. Arus perkembangannya amat sulit untuk dibendung, hanya kesiapan individulah yang mampu menjadi benteng. Dahulu perempuan Indonesia yang awalnya berpakaian tanpa penutup dada, hanya mengenakan lembaran kain, tabu menggunakan celana, sampai akhirnya berkebaya modern, mengenakan crop jacket, sampai akhirnya hotpants mulai nge-trend lagi. Media yang memiliki andil sangat besar, menjadi penentu icon fashion, dengan target kaum perempuan sebab perempuan juga menjadi objek media.

Ini adalah bahasan lama, sejak pantat saya masih duduk di bangku sekolah, pandangan-pandangan yang memposisikan perempuan sebagai pemicu kesalahan yang dilakukan orang lain (baca:laki-laki)  kerap kali dilontarkan. Fokus seharusnya ada pada tindakan pelaku itu sendiri, namun sering melebar, beraroma gender, dengan menempatkan perempuan sebagai titik sentral mengapa perilaku itu bisa terjadi.

Disini terlihat jelas sekali, perempuan dan tubuhnya ditempatkan sebagai objek seks. Secara simbolis kita dapat melihat suatu hirarki gender, yaitu subjek-objek, menikmati-dinikmati. Apabila kemudian laki-laki tergoda dengan tubuh perempuan karena terlihat menunjukkan lekuk tubuhnya, perempuan tersebut “pantas” mendapat perlakuan tidak senonoh, jadi secara tak logis dan tak rasional kesalahan laki-laki itu dianggap “wajar”.  Paradigma yang secara sadar maupun tidak sadar kita anut, karena telah mengakar dari nilai yang ditanamkan sejak dini. Orang-orang menggunakan rasionalisasi untuk beralasan, dengan demikian, jenis kelamin tertentu (baca:laki-laki) yang konon katanya (bukan saya yang ngomong ya) punya punya ego segudang itu akan merasa terlindungi. Sebuah Trik manipulasi diri sejak zaman baheula, yang sampai sekarang terkadang masih saya atau anda terapkan dalam beragam konteks peristiwa.

Dalam psikologi dan logika, rasionalisasi (atau alasan pembuatan[1]) adalah mekanisme pertahanan yang dianggap sebagai perilaku yang kontroversial atau perasaan yang dijelaskan secara rasional atau logis untuk menghindari penjelasan yang benar. Sering melibatkan hipotesa ad hoc.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Rasionalisasi_%28membuat_alasan%29)

Sepertinya cukup logis dan rasional melihat dari kacamata Freud!

Sungguh komentar yang naif dan egosentris. Seperti masuk kedalam kerumunan kelas praoperasional. Suatu hari diadakan ulangan, ada seorang murid yang ketahuan mencontek oleh gurunya. Guru bertanya, “Kenapa menyontek?”. Murid tersebut mengatakan, “karena teman sebangku saya juga menyontek”.

SUMBER DATA

http://www.republika.co.id/berita/regional/jabodetabek/11/12/30/lx0mnl-kasus-pemerkosaan-di-ibukota-meningkat

http://www.beritabatavia.com/berita-8925–4391-wanita-indonesia-jadi-korban-perkosaan-.html