Tag

, , , , , ,

            Theme wordpress baru yang bermunculan menggoda saya ingin mencobanya satu-persatu di hari Ibu ini, untuk sedikit menyegarkan tampilan. Selamat hari Ibu untuk para ibu. Setidaknya muncul satu hari bahagia yang semoga dapat dirasakan oleh para perempuan khususnya para ibu, setelah hari-hari kemarin dengan berita-berita kelabu yang dialami oleh para Ibu kita disana. Kita tinjau dari berita terakhir 6 desember 2011 lalu (http://www.okezone.tv/play/20786/index.html) di Kerinci, Jambi, Ibu Irma mengajak anak bungsunya bunuh diri, dengan menceburkan diri ke air panas, atau seorang perempuan membunuh seorang anak, dan memutilasi tangan ana tersebut. Saat dalam proses pengejaran, pelaku ditemukan tewas, diduga melakukan bunuh diri dengan menabrakan diri ke kendaraan yang lewat, perempuan itu tidak lain adalah Ibu kandung anak tersebut.

Induk singa saja tidak akan memakan anaknya, begitu rata-rata pendapat masyarakat. Mungkin di dalam benak kita, mereka seperti sosok Elizabeth Bathory, perempuan yang membunuh perawan-perawan desa untuk diambil darahnya dan ia mandi dengan darah tersebut sebagai rahasia dari kecantikannya. Pada kenyataannya Ibu-ibu ini adalah perempuan biasa, tipikal ibu rumah tangga yang harus memutar otak, kira-kira apa yag harus dimasak untuk esok, sama seperti Ibu saya. Namun bayangan pembunuhan yang begitu sadis dan sulit dipercaya, kadang-kadang mengaburkan penilaian kita.

Saya berpikir, apabila kita mencoba melihat dari sudut pandang mereka, kira-kira apa yang mereka rasakan. Sungguh sulit rasanya berada di posisi mereka pada saat itu. Sementara beberapa orang menghakimi dengan gunjingan yang tidak mengenakan. Kita melancong sebentar ke China. Pengambilan sari empedu beruang untuk pengobatan, telah merampas kebebasan hewan-hewan itu, memenjarakan beruang mereka dalam jeruji besi yang sempit dan menyakitkan. Perut beruang dilubangi, lubang tersebut dibiarkan menganga sampai infeksi. Akibat banyak beruang yang bunuh diri karena tindakan manusia yang menyiksa itu, banyak dari mereka bunuh diri. Manusia kemudian memutuskan untuk memakaikan rompi besi, sehingga beruang tidak dapat bunuh diri dengan merobek-robek perutnya. Ada satu kisah pilu, seekor induk beruang menerobos kandangnya, karena perut anaknya akan dilubangi. Induk beruang tersebut berhasil meraih si anak dan mencoba melepas rantai yang mengikat si anak. Karena tidak berhasil, ia memeluk anaknya dan kemudian membunuhnya. Sang Ibu lalu berlari dan membenturkan kepalanya ke tembok, mati seketika. Ia tidak ingin anaknya hidup dalam penderitan yang berkepanjangan(http://www.dailymail.co.uk/news/article-2025388/China-Tortured-mother-bear-kills-cub-herself.html).

Bukan kebencian, melainkan jeritan ketidakmampuan dan sikap. Perbuatan yang dilakukan bukan berdasarkan kebencian terhadap anak, tetapi karena mereka begitu mencintai buah hatinya. Apakah perbuatan itu dilakukan tanpa berpikir panjang? Justru karena berpikir panjang dan dihadapkan pada kekhawatiran akan nasib anaknya di kemudian hari, para Ibu itu tidak ingin anaknya menderita jika harus ia tinggalkan, sehingga dengan hati yang hancur mengajak anaknya ikut serta ke alam baka.

Victor Frankl, seorang ahli psikiatri, ia pernah hidup dalam kamp konsentrasi saat tragedi holocaust terjadi. Di kamp kematian itu yang ada hanya penderitaan, kelaparan, depresi , dan aroma kematian. Banyak yang menyerah kemudian mati, tetapi ada yang bertahan. Orang-orang yang bertahan, termasuk Frankl sendiri, melalui hari-hari itu tanpa menyerah, memaknai setiap detik nafas kehidupan untuk menyongsong kebebasan kelak dikemudian hari yang entah mereka tidak tahu kapan itu akan terwujud. Jika di Indonesia, bisa diibaratkan seperti zaman penjajahan dahulu, hidup dengan keterbatasan dan penderitaan. Mungkin terdengar seperti harapan palsu, namun pertahanan yang paling ampuh itulah yang harus dilakukan, yaitu makna hidup dan harapan, sehingga manusia akan memiliki semangat untuk bertana hidup, berpikir panjang dan bersikap dengan orientasi masa depan.

Semoga dengan komitmen pemerintah untuk kesetaraan dan kesejahteraan perempuan dan anak, dilandasi dengan keberpihakan pada perempuan.

 

Manusia bukanlah induk singa,

terkadang tidak selalu tangguh

Bukan ibu beruang,

dengan rompi besi keputusasaan yang begitu mendalam

Bukan juga keledai,

yang tidak akan jatuh dua kali ke lubang yang sama

Hebatnya disitulah kelebihan manusia,

kita akan selalu mengalami keterpurukan

jatuh ke lubang yang sama berkali-kali,

Namun kita akan bangkit, selalu bangkit, dan bangkit lagi untuk pulih

Memiliki harapan dan kekuatan membuka rompi besi keputusasaan

 

Teruntuk para perempuan, jaga dirimu dan keluargamu. Selamat Hari Ibu.