Prospective Husband (baca : Suami ideal & bermasa depan cerah), merupakan tema dari sebuah diskusi dimana pada saat itu kami diminta melakukan analisis tentang tipe suami yang prospektif ditinjau dari berbagai aspek baik secara materi, romantisme sampai psikologis. Target utamanya tentu saja para perempuan, walaupun dalam kesempatan tersebut ada juga peserta laki-laki. Tapi mengapa harus “prospective husband”? Mengapa yang muncul bukan tema prospective wife, atau prospective girl?
Tidak bosan-bosannya saya membawa sistem patriarkal, stereotipe, dan segala keyakinan (beliefs) tentang perempuan, dan antek-anteknya itu berkali-kali harus duduk di kursi terdakwa sebagai biang keladi. Ya, para tertuduh itu menciptakan image perempuan yang tidak cukup prospektif dibandingkan dengan kaum lelaki. Dengan pencitraan perempuan sebagai sosok lembut, lemah, bukan dominator, membutuhkan guardian yang mampu menawarkan segala sumber untuk menjamin kebahagiaan perempuan. Seolah-olah menciptakan kesan tanpanya, si perempuan tidak mampu berpijak seorang diri menantang dunia.
Ya, buntut-buntutnya menyinggung faktor ekonomi, ketika perempuan dipandang sebagai mahluk yang berorientasi terhadap duit, dan itu menjadi lelucon yang membuat seisi kelas tertawa. Mengingatkanku saat menjadi volunteer untuk mengisi pertanyaan sebuah kuesioner, “Apakah calon suami anda harus memiliki deposito?”
Tertanda
Unprospective Woman

SELAMATKAN INDONESIA





