16 Februari 2009, di sebuah surat kabar, diberitakan seorang balita dinyatakan positif terinfeksi HIV. Rupanya Ibu dan Ayahnya juga telah terinfeksi virus tersebut sebelumnya. Si Ibu tertular dari Ayah yang kemudian menularkan kepada balita berusia 11 bulan itu. Pada survey yang dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) sampai pada tahun 2009, jumlah pengidap HIV/AIDS semakin melambung. Pada tahun 2008 dari data statistik didapati sekitar 16.110 orang penderita, sedangkan tahun 2007 lalu ada 11.141 orang, menunjukkan dalam kurun waktu satu tahun meningkat sebanyak 4969 orang penderita. Yang baru adalah angka penularan oleh Ibu ke anak semakin tingg. Menurut Nafsiah Mboi, sekretaris KPA, fenomena ini menggambarkan suami yang melakukan seks di luar pernikahan telah menularkan virus ini kepada istrinya dan akhirnya berdampak pada penularan terhadap anak.
Disini bentuk internalisasi pengabdian perempuan untuk keluarganya, sebagai pemenuhan ekspektasi masyarakat atas sosok Istri dan Ibu yang baik. Perempuan diharapkan menjadi pengikut yang baik yang bersikap nrimo, sebab swargo manut, nraka katut. Maka norma itu kemudian dipahami dengan semena-mena oleh laki-laki, yang berujung pada perilaku infidel (ketidaksetiaan), dengan berpaling mencari pemenuhan kebutuhan biologis pada perempuan lain. Tetapi lagi-lagi image negatif seringkali dialamatkan pada perempuan, sebagaimana kasus KDRT dengan perempuan sebagai korban dengan angka yang tinggi. Kok mau diselingkuhi? Kok mau dipukuli? Salah sendiri, nggak bisa jaga suami! Lebih ringan justru stigma yang melekat pada laki-laki, seolah menjadi pembenaran atas tindakan yang sewenang-wenang, adalah sudah menjadi rahasia umum, wajar bila laki-laki berperilaku sedikit “nakal”, namanya juga laki-laki.
Dan inikah buah kesetiaan seorang istri, menjadi martir untuk suaminya?
Jangan sampai institusi pernikahan menjadi martyrdom (pengorbanan total) bagi perempuan maupun pihak manapun. Institusi pernikahan seharusnya mampu menjadi pengikat keharmonisan istri dan suami, disitulah setiap individu harus mampu memaknai sebuah kesetiaan yang berlandaskan kesetaraan.
bagaimanpun yang namanya kesetaraan gender di negara kita adalah suatu hal yang masih dianggap “aneh”….soalnya sudah menjadi budaya turun temurun bahwa apabila ada seorang perempuan yang beranjak menuju jenjang tertinggi melebihi laki-laki maka jaman itu sudah mendekati hari akhir….
nah itu dia yang kemudian harus kita jadikan PR yaitu untuk merubah pola pikir seperti itu.
tapi sulit banget non………….
#teruntuk ngatmow :
Semoga dengan isu kesetaraan gender yang kini saya rasa sudah lebih dikenal masyarakat luas, kesetaraan gender itu tidak lagi menjadi “barang aneh” bagi masyarakat. Restrukturisasi pola pikir memang sulit sebab persepsi merupakan produk internalisasi sejak dini. Mas ngatmow ikut mendukung perubahan itu kan ????
Sekali waktu saya pernah mendengar Butet Kertaradjasa berkata : “kodrat perempuan itu hanya ada dua, yaitu melahirkan dan menyusui …”
Jadi tidak benar untuk mengatakan bahwa kodrat perempuan itu dapur, kasur, melayani suami, bla bla bla…
Menurut saya benar sekali, karna cuma yang dua itulah yang membuat perbedaan antara perempuan dan laki-laki .. Selebihnya sama, yang berbeda cuma susunan kromosom dan cara berpikir yang tentu saja bisa kita seberangi ..
#teruntuk Muzda :
Berarti perlu ada redefinisi “kodrat”, sebab indikasi perbedaan kodrat hanya secara fisiologis, bahkan menurut penelitian perbedaan kromosom pun tidak signifikan. Mengenai cara berpikir, kognisi dan emosi perempuan dan laki-laki bisa berbeda, tidak lain adalah karena proses internalisasi peran gender sejak dini, salah satu contohnya adalah cara penalaran moral seperti yang dikemukakan oleh Carol Gilligan yang berbeda dengan penalaran moral oleh Kohlberg yang dianggap menggunakan norma laki-laki.
Trims tuk kunjungannya.
kodrat perempuan berjuang bersama suami
kodrat laki2 berjuang bersama istri
komplit
#teruntuk Cengkunek :
Hmm, berarti disini kesetiaan dan saling mendukung menjadi unsur penting dalam pernikahan.
yapzzz.,.,
keep fight fren.,.
walaupun aq bkan prmpuan, but we all are human,.,.
#teruntuk Gwe Meonkzt :
Trims prend tuk dukungannya.
selamatkan perempuan!
selamatkan orang utan!
salam kenal!
#teruntuk antz :
Salam kenal juga.
gemeretuk!!! tuk tuk…
#teruntuk dean :
???????
yaps!! kurang lebihnya sepakat tidak sepakat. and, ane taut yaks, boleh!!?
#teruntuk dean :
Boleh
sebenarnya, statement kamu kali ini lebih heboh dari sebelumnya cman sayang ini nggak jadi perhatian khalayak luas. hal ini dikarenakan ada seorang perempuan yang cukup berani mempertentangkan realitas kehidupan seorang perempuan dengan harapan dan idenya sendiri. Tindakan semacam ini jelas mengundang ketegangan yang cukup hebat bahkan memang menarik untuk dijadikan bahan perdebatan.Saya cuman bisa mendukung aja. Soalnya, ketegangan tersebut dapat berakhir bila ide dari pada penulis tersebut terwujud. Saya juga salut untuk perempuan yang sanggup bersikap serupa dengan penulis ini.
#teruntuk Jatu :
Sebenarnya banyak juga kok Jatu, pihak yang memperhatikan masalah ini, tapi barangkali jarang ditampilkan ke masyarakat saja.
menurut saya sih,, ngga semua laki-laki seperti itu, banyak juga yang baik. tergantung keperibadian orangnya masing – masing .
salam kenal
#teruntuk i’disastra :
Saya tidak ada maksud membuat kesan negatif terhadap jenis kelamin yang lain. Saya hanya berusaha menyampaikan fenomena di sekitar kita sebagai bentuk partisipasi untuk kesetaraan gender.
Salam kenal juga.
Aduh Ibu Jeng Sodari ….
Gimana kabarnya ne,, lama kali gak ada kegiatan di sini ..
Kangen bow baca tulisanmu
Btw, aku mo nengok sekaligus nganterin award. Mungkin ini kecil, tapi namanya kado,, jadi jangan liat wujudnya yaa
Ambil di tempatku …
#teruntuk Muzda :
Iya nih saudari Muzda, “rumah” ini jadi jarang keurus, teralihkan oleh kesibukan lain yang bikin puyeng. Untung ada Jeng Muzda yang nengokin.
Udah kulihat kado spesialnya loh. Trims banget ya Muzda. Blog-mu seharusnya dapet award juga ya…, klo gitu awardnya kita bagi dua aja dah he…he…
Aku ingat dengan salah satu cerita di milis yang mengatakan kalau perempuan harus juga bisa menjadi pelacur buat suaminya. Ini dilakukan demi menjaga keharmonisan rumah tangga dan supaya suaminya tidak jajan di luar.
Dan aku pun menentangnya keras-keras lalu bilang, “Kenapa harus perempuan yang melakukan semuanya? Kenapa semua kegagalan di dalam rumah tangga seolah-olah adalah kesalahan kaum istri saja? Why do women have to do all the jobs dan disalahkan kalau tidak benar?”
Aku benci dengan kalimat itu.
Dan aku lebih benci, ketika kalimat itu keluar dari mulut perempuan sendiri…
Btw,
salam kenal, ya…. Maaf jadi senewen di blog orang..
#teruntuk Lala :
Begitulah Jeng, realita yang masih sering kita temukan dalam masyarakat, penilaian rendah dialamatkan pada perempuan bahkan oleh kaumnya sendiri (baca:perempuan). Pada masyarakat kita, ada penilaian yang berlebihan terhadap manusia dengan jenis kelamin laki-laki, dengan alasan-alasan biologis, emosi, kognisi, seakan menjadi pembenaran bahwa memang itulah peran yang harus diambil masing-masing gender. Perempuan sebagai penanggung jawab domestik bahkan tidak pernah pudar walaupun ia juga ikut mencari nafkah, ini malah menjadi beban ganda bagi perempuan.
Salam kenal juga Jeung Lala. Nggak apa-apa sesekali mengungkapkan uneg-uneg, karena ruang saya ini bisa jadi lahan pengungkapan emosi kok
hummm…
pengalaman saya sebentar di tempat semacam penyuluhan pernikahan…
kadangkadang, perempuan yang memilih untuk ‘tinggal’ dan terus dipukuli sadar sesadar-sadarnya dengan pilihan mereka itu…
yang saya nggak habis pikir, jawaban hampir setiap perempuan yang saya tanyai mengapa…
karena cinta…
cinta? CINTA? cinta macam apa yang membiarkan diri sendiri disiksa oleh orang yang dicintai?
for me cinta itu tai kucing belaka!
*ups, maap, esmosi di kunjungan perdana
*
#teruntuk yoan :
Sabar…sabar mbak, daripada es mosi mendingan es jeruk aja, bikin adem
Sadar, namun tidak aware. Sadar dalam arti mengerti alasan untuk apa mereka tetap bertahan dan menerima perlakuan yang tidak semestinya. Namun mereka mungkin belum aware akan akar dari kesadaran itu tadi, bahwa alasan-alasan bahkan sampai pada alasan paling logis sekalipun, sebenarnya adalah hasil dari konstruksi sosial, sebuah ideologi yang disosialisasikan kepada perempuan untuk menjalankan peran masokis itu.
sepertinya sudah menjadi salah satu karakteristik laki2 untuk memiliki jiwa feodal. kalo dipikir-pikir, jika berfikir ekstrim rasanya tidak mungkin mampu membayar apa yang dilakukan istri. So, Sebelum memilih meminang seorang wanita, seharusnya laki2 menghilangkan jiwa feodalnya
Jangan anggap wanita sebagai budak.Pergaulilah wanita dengan agama. Gauli bukan pula berarti apa yang dikatakan teman saya olahraga cukup telentang keringetan. Gauli berarti anggap ia sebagai sahabat…….
#teruntuk yudha :
Sebab perempuan bukan warga kelas dua dan ia berhak atas kesetaraan itu.