Ibu Kartini yang telah lama dinobatkan sebagai pahlawan, menuai “rasan-rasan” sampai protes keras dari sebagian orang, beberapa diantaranya malah perempuan. Kartini dianggap sebagai pahlawan kesiangan yang tidak layak dikagumi karena perjuangannya dianggap bukan demi kemanusiaan namun hanya demi kepentingannya sendiri karena pasungan tradisi dan budaya patriarki kebangsawanan. Apalagi kemudian Kartini memutuskan untuk menerima aturan dan tradisi yang dibebankan padanya, bersedia menuruti adat bangsawan Jawa sampai mau menikah dengan bupati Rembang yang dijodohkan kepadanya. Keputusannya itu membuat ia harus melepaskan impian untuk menimba ilmu di negeri Belanda dan menjadi perempuan intelektual yang bebas. Pilihan perempuan ini, yang diartikan sebagai kepasrahan, membuat beberapa orang kini semakin meragukan kontribusinya untuk perempuan dan masyarakat, sehingga ia kemudian harus rela dibanding-bandingkan dengan para pahlawan perempuan lain, serta 21 April yang menjadi hari kebesaran untuknya dan para perempuan Indonesia dianggap tidak layak.
Kartini yang terlahir sebagai putri kaum borjuis Jawa, sebenarnya sama dengan perempuan kebanyakan lain pada masa itu. Perbedaan kelas sosial dan ekonomi memang menjadi salah satu indikasi bahwa diskriminasi atau perlakuan gender yang diterima bisa berlainan antara satu orang dengan yang lain, tetapi tidak signifikan. Budaya patriarki tradisional dalam kehidupan masyarakat Jawa pada zaman dahulu masih sangat terasa dan diagungkan oleh masyarakat. Perempuan berperan sebagai konco wingking suami yang setia melayani suami sebagaimana suami adalah seorang tuan, otomatis membatasi perempuan dalam setiap segi kehidupan dengan meletakkan perempuan pada posisi kelas dibawah laki-laki.
Hasrat dan semangat Kartini menjadi inspirasi yang memotivasi kaum perempuan bahwa mereka bukan warga kelas dua, dan sebagaimana kaum laki-laki, perempuan berhak mendapatkan kesetaraan atas pemikiran dan tindakannya. Banyak perempuan yang merasakan opresi itu, namun hanya segelintir yang berani bersuara dan menggugatnya, dikarenakan ketidakpahaman maupun rasa takut. Bila kemudian Kartini memilih untuk mengubur impiannya dan menuruti tradisi, maka itu adalah pilihannya. Pilihan yang dianggap sebagian orang ironis, menimbulkan sinisme, dan dianggap suatu ketidakpantasan baginya menyandang gelar pahlawan emansipasi. Pilihan itu memang bukan konsistensinya, pilihan itu tidak menunjukkan kegarangannya, tetapi pilihan itu mampu ditoleransi dan dimaknai olehnya maka itu adalah eksistensinya.
Tujuan dari kesetaraan gender sebenarnya adalah bagaimana perempuan dapat mencapai eksistensinya melalui kebebasan berpikir, membuat keputusan, dan merasa nyaman dengan diri dan pilihannya, bukan menentukan atau mengharuskan perempuan menjadi figur si A, si B.
Proses yang dijalaninya untuk melepaskan belenggu sistem dan praktik gender telah lebih dari cukup menjadi bukti sebagai kontribusi atas wacana kesetaraan gender, berikut sistem dan praktik pada masa itu, sehingga mampu menjadi pelajaran berharga pada periode selanjutnya.
Seseorang tidak perlu harus maju ke medan perang untuk bisa disebut pahlawan. Dan Kartini tidak pernah melakukannya, tidak pernah pula meminta dianugerahi gelar pahlawan, ia bahkan tidak pernah mengira ada momen-momen dalam hidupnya yang menjadikannya kelak sebagai pahlawan.
Teruntuk mereka yang merasa 21 April bukan hari spesialnya, dan Kartini tidak dapat menjadi pahlawannya, paling tidak setiap perempuan harus mampu merasa dan menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri, coz hero lies in you.
bukannya permasalahan kepahlawanan Kartini lebih banyak ke permasalahan budaya ya?
karena yang diprotes mengenai kepahlawanan Kartini bukan karena ke “perempuan” an nya tapi lebih banyak pada apa yang sudah kartini lakukan. karena menurut sejarahnya, kartini dipilih sebagai ‘ikon’ perempuan dan emansipasi adalah karena kartini menggambarkan sosok perempuan jawa. Presiden sukarno pada waktu itu mencoba mencari sosok perempuan yang bisa dijadikan ikon, tetapi dari kalangan wanita jawa. nah permasalahannya ternyata tidak cukup banyak wanita2 jawa yang tercatat didalam sejarah memilki peran besar seperti Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Dewi Sartika dan pahlawan-pahlawan lain. Sementara figur yang paling banyak diusulkan waktu itu adalah Coet Nyak Dhien. Figur coet nyak dhien dianggap sangat cocok sebagai figur yang dapat menggambarkan kalau perempuan mempunyai kemampuan yang sama dengan kaum laki-laki. bahkan catatan belanda mengenai cut nyak dhien menggambarkan bagaimana sosok cut nyak dhien adalah seorang pemimpin yang kharismatik, yang memilki kecakapan dan kecerdasan sebagai pemimpin. Bahkan catatan tersebut menunjukkan penghormatan Belanda terhadap sosok dhien yang membuat mereka selama bertahun-tahun tidak bisa menguasai Aceh sebagai lawan yang patut dihormati.
Sementara untuk kepahlawanan Kartini menurut yang lebih mendukung Cut Nyak Dhien, lebih menunjukan ketidakmampuan ketimbang perjuangan. Surat-surat Kartini di anggap cengeng, karena hanya bisa mengeluh terhadap keadaan. Hal ini yang jadi pertentangan mengenai sosok Kartini. Bagi kaum perempuan yang menolak kepahlawanan Kartini, mungkin saja karena menurut mereka Kartini adalah Lambang Kelemahan ketimbang lambang emansipasi.
Yah akhirnya kembali kepada perspective kita terhadap kepahlawanan. Kalau ternyata figur seperti Kartini merupakan gambaran ideal mengenai kepahlawanan peran perempuan dimasyarakat ya silahkan.
Yang terpenting disini adalah sisi edukasi bagi setiap perempuan untuk mau memperjuangkan hak-haknya.
RUU poligami dan pernikahan siri yang sekarang sedang hangat2nya, Perda-perda syariah di banyak daerah yang pada akhirnya lebih banyak merugikan kaum perempuan (berapa banyak kaum perempuan di beberapa daerah yang menerapkan Perda seperti ini yang harus bermalam ditahan polisi karena keluar malam tanpa muhrimnya dan banyak lagi yang lainya) dan banyak lagi list hal-hal yang membutuhkan kemauan kaum perempuan utk bersuara dan bersikap.
#teruntuk amflife :
Banyak artikel yang menyudutkan Kartini sebagai pahlawan nasional, masing-masing memiliki sudut pandangnya sendiri akan makna kepahlawanan. Namun yang tidak perlu diragukan adalah perempuan memiliki pilihan dan hak untuk menentukan tujuan hidupnya sendiri.
menggugat berarti mencoba untuk merubah atau menyalahkan. Konteks tersebut sangat bagus untuk diungkapkan ke permukaan. Hal ini dikarenakan , gender dalam sejarah ataupun sastra sangat kental dengan subyektifitas. Dalam sejarah sendiri, subyektivitas juga dpat merubah versi sejarah itu sendiri. Untuk menggugat kepahlawanan kartini, saya kira diperlukan adanya sebuah upaya penulisan ulang atau penginterpretasian tersendiri pengalaman hidup Kartini. Akan tetapi , upaya tersebut tentunya akan menemui hambatan dan penentangan dari berbagai kalangan yang berpendapat bahwa kisah kartini adalah kisa yang sesungguhnya dan sudah menjadi fakta keras.
#teruntuk Jatu :
Setiap orang memiliki penilaiannya sendiri terhadap sejarah, dan sejarah itupun lahir dari penilaian orang.
Meliat realitas masa lalu dan kemudian membandingkannya dengan kondisi masa kini akan selalu menimbulkan ketegangan yang tak kunjung berhenti. hal demikian baru dapat mereda seandainya saja keadaan yang kini dialami dirasakan lebih baik dibandingkan masa lalu.
Dalam meliat permsalahan kartini alangkah baiknya seorang pengamat mau memperhatikan kondisi serta jiwa jaman yang hidup disaat Kartini beranjak dewasa. Hal tersebut menjadi hal pokok yang kerap menentukan langkah ataupun cara berpikir seorang Kartini. Begitu pula untuk saat ini, perempuan di Indonesia tentunya sudah merasakan perbedaan tersendiri akibat munculnya gerakan-gerakan kesetaraan gender.
#teruntuk Jatu :
Apa yang menjadi pemikiran Kartini merupakan pengalaman dan pengamatan pada masanya yang kental dengan tradisi serta nilai-nilai konservatif yang menomorduakan perempuan. Pada masa kini bisa jadi masih ada paham yang sama, hanya bentuknya yang berbeda.
Aku sendiri pengagum kartini. terlebih setelah membaca karya Pramodya ananta tour yang berjudul “panggil aku Kartini saja”. Disitu penulis benar-benar mencoba menyelami perasaan, pemikiran kartini yang tak terlepas dari keadaan yang terjadi saat itu. Untuk “amflife”, maaf aku tak setuju dengan pendapat anda. (beda pendapat, boleh kan…hehe) dan apakah anda telah membaca buku karangan Pramodya tersebut? (jujur saja, buku tersebut benar-benar membantu saya dalam memahami sosok kartini). Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa buku Habis gelap terbitlah terang yang berisi kumpulan surat-surat kartini juga terdapat banyak kejanggalan. sang pengumpul surat tersebut yang merupakan seorang Belanda terkesan sengaja menyajikan surat-surat dengan dipotong-potong, dan menyusunnya sedemiukian rupa menurut keinginannya. Sehingga ya…menurut anda bilang, cengeng. dan juga memberi kesan bahwa pemikiran-pemikiran kartini tersebut juga berkat campur tangan Belanda (karena Kartini banyak bersurat dengan orang Belanda). Hal tersebut dicurigai tak lain karena politik etis yang dijalankan Belanda saat itu.
Seandainya, semua tulisannya (tak hanya surat) dapat ditemukan, kita tak hanya terkagum akan jumlahnya yang sangat banyak, tapi juga kedalaman pemikiran isinya yang telah jauh meninggalkan masanya. Apalagi ditulis oleh seorang wanita yang berusia sangat muda (mulai menulis dari usia belasan), hanya lulusan sekolah rendah, dan ruang gerak yang sangat terbatas (karena ia mulai dipingit sejak berumur 12,5 tahun)
#teruntuk Rini Apriani :
Kartini memang salah seorang perempuan Indonesia yang menjadi inspirator bukan hanya perempuan tetapi juga bangsa Indonesia. Dengan penanya ia bukan hanya memperjuangkan pemikirannya tapi juga perempuan Indonesia, karena sejatinya belenggu patriarki yang paling hebat bukan dari tindakan atau perlakuan, tetapi melalui internalisasi yang mendarah daging dan bercokol dalam pemaknaan diri perempuan itu sendiri.
Ya memang sejarah itu subyektif. Tergantung pada siapa atau rezim yg berkuasa. Mungkin kalo rezim yg berkuasa kebanyakan dari etnis luar jawa, saya yakin bukan Kartini yang dijadikan ikon emansipasi. Bukankah dalam berbuat suatu perbuatan tidak cukup hanya dengan berniat? Implementasi jauh lebih bermakna. Kata pak ustad, amal perbuatan itu diniatkan dalam hati, diucapkan oleh mulut, dan dilakukan oleh perbuatan. Menurut saya itu yang lebih sempurna untuk dijadikan ikon sosok pahlawan. Bukankah episod Perang Bubat juga tidak mendapat tempat dalam penulisan sejarah hanya karena malu mengakui? Cut Nyak Dien dan Rd. Dewi Sartika menurut saya lebih pantas menjadi ikon emansipasi (kalau memang harus ada hari emansipasi). Atau lebih baik tgl 21 April diperingati sebagai hari perempuan Indonesia daripada hari Kartini. Maaf.
#teruntuk Mang Udin :
Saya pikir apa yang dilakukan oleh Kartini sudah merupakan implementasi, bagaimana ia telah membuka mata bahwa perempuan pada zamannya mesti menghadapi supresi dan tantangan yang berat untuk bisa mengaktualisasikan diri mereka. Untuk menjadi sosok pahlawan tidak mesti harus mengangkat senjata, sama halnya seperti Ibu saya sebagai ibu rumah tangga yang bersenjatakan wajan dan panci, medianya saja yang berbeda, Kartini dengan surat-suratnya menginspirasi kaum perempuan untuk maju, dan Cut Nyak Dien dengan pedangnya melawan penjajahan kolonial. Hari apapun namanya bukan hal yang perlu dipersoalkan, hari Kartini pun yang merayakan adalah para perempuan, berlandaskan semangat Kartini yang ingin mencapai hasrat untuk mendapatkan kesetaraan sebagaimana kaum laki-laki.
Bukan hanya Kartini. Masih banyak teladan.
Cut Nyak Dien (Panglima Perang)
Dewi Sartika
Sayyidah Fathimah az-Zahra
Sayyidah Zainab Al-Kubro
Bunda Theresa
#teruntuk Ressay :
Yup, perempuan-perempuan itu memang patut menjadi pahlawan yang bisa kita teladani melalui hidup dan karyanya masing-masing.
kamu banyak menulis tentang sosok perempuan ya
___kamu dapat salam prestasi dari bri___
____geisha?menarik gak?_____
____________________________________salamprestasi
#teruntuk bri :
Hai, Bri. Salam balik. Iya sebagian besar disini diperuntukkan bagi perempuan. Geisha? Perempuan dan seni…, menurutku menarik.
__salamkartini__
___hey kartini ayoprestasi lagih__
kartini2 muda memang harus memakai kebaya?
kan gakharus…gimanadong
#teruntuk bri :
Salam kartono
Sebenernya Kartini dan kebaya itu tidak ada hubungannya. Tetapi sebagai upaya melestarikan budaya kita, kenapa tidak….., makanya hari Kartini bisa menjadi momen yang tepat. Kalau tidak seperti itu, ntar kebaya ilang juga seperti yang lain…..
Ping-balik: Universitas Perempuan Terbesar di Dunia Diresmikan | Bani Madrowi