Tag

, ,

Walaupun gerakan feminist sejak dahulu lebih banyak terdengar disuarakan di negara-negara barat, serta dalam praktik-praktiknya, negara-negara barat terkesan lebih maju dalam meniadakan diskriminasi gender, namun sebenarnya bila dipikir-pikir, kaum perempuan di Indonesia lebih beruntung.

Bisa dibilang kaum perempuan di Indonesia lebih beruntung, ditinjau dari segi bahasa. Ketika di dalam bahasa Inggris terdapat sebutan “he” untuk “dia” (laki-laki), serta “her” untuk “dia” (perempuan). Kaum perempuan di Indonesia tidak perlu mendapatkan pembedaan sebutan, karena untuk perempuan dan laki-laki memiliki sebutan yang sama, yaitu “dia”. Ketika di dalam bahasa Inggris terdapat kata history untuk sejarah, yang berasal dari kata he/his dan story, jadi cerita (story) tentang dia yang laki-laki, yang berarti seolah-olah meniadakan perempuan, sebab tidak pernah ada kata herstory. Seringkali kita membaca atau mendengar kata manusia disebut dengan men/man, mengapa tidak disebut women/woman.

Tetapi mengapa dalam beberapa kata dalam bahasa Indonesia harus mendapat sebutan tertentu yang membedakan gender. Seperti wartawan-wartawati, mahasiswa-mahasiswi, seniman-seniwati, dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimana dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang menegaskan bahwa sebutan wanita lebih berkonotasi positif dibandingkan dengan sebutan perempuan. Padahal kata wanita sendiri berasal dari kata wani ditata yang memposisikan perempuan sebagai subordinat yaitu sebagai pihak yang seharusnya diatur. Sedangkan kata perempuan justru mengacu pada arti bahwa perempuan dapat menentukan dirinya sendiri yaitu perempuan sebagai empu atas dirinya sendiri malahan digambarkan berkonotasi negatif. Bukankah ini merupakan politik gender, dengan melakukan manipulasi yang menjerumuskan generasi muda. Kata wanita yang merupakan suatu bentuk diskriminasi justru digambarkan seolah-olah memiliki posisi yang terhormat, sedangkan kata perempuan umumnya dipakai dalam istilah-istilah yang terkesan negatif.