HARI IBU, MOMEN PEREMPUAN

Tag

, , , ,

Saat duduk dalam sebuah rangkaian panjang antrian di koridor rumah sakit, dari speaker di pojok ruangan terdengar ketukan-ketukan tanda pasien berikut akan dipanggil.

”Ibu anu…!”

Beberapa tahun lalu di ruang yang sama dengan sistem antrian yang sama, namun dengan keimutan yang berbeda, perempuan dibalik speaker itu masih memanggil ”Anak anu….!”

Kembali ada sensasi ingin tertawa, sensasi ingin memprotes, dan sensasi takjub, tak terasa akhirnya telah sampai pada fase ini. Seorang teman malah sempat tak terima sisa-sisa keimutan puber mudar begitu saja akibat sebutan ”Ibu” tadi :p

Apa maknanya sebutan Ibu?

Dalam dunia pekerjaan maupun ranah publik adalah hal yang lumrah sebagai bagian dari etika interaksi.

Setelah Kongres Pemuda 28 Oktober 1928, para perempuan juga tak ingin ketinggalan ikut berpartisipasi dalam penegasan dan penegakkan jiwa nasionalisme untuk menyongsong Indonesia Merdeka melalui pergerakan dalam kesetaraan hak perempuann dan laki-laki, pemberdayaan perempuan, terutama dalam pendidikan dan kesejahteraan, serta menentang perkawinan di bawah umur yang dipelopori oleh Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta pada 1928 tersebut, yang melahirkan Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI). PPI kemudian diubah menjadi PPII (Perserikatan Perhimpunan Istri Indonesia) pada 22 Desember 1928. Oleh Presiden Soekarno, tanggal 22 Desember, momennya para perempuan itu, ditetapkan sebagai Hari Ibu.

Sejalan dengan kemunculan organisasi PPI, menyusul berbagai organisasi perempuan yang bergerak dalam bidang sosial, budaya, bahkan politik, misalnya Istri Sedar yang didirikan di Bandung pada tahun 1930, serta Istri Indonesia pada 1932. Dalam rangka memperjuangkan cita-citanya, perempuan Indonesia di era sebelumnya tidak jauh berbeda, berperan serta dalam berbagai kegiatan atau organisasi, melalui Ina Tani, Wanita Taman Siswa, perkumpulan wanita Muhammadiyah yang disebut Aisyah, dll yang berkembang subur, salah satunya berdasarkan kepeloporan Kartini (1879-1904) , juga tokoh-tokoh pergerakan perempuan lainnya seperti Maria Walanda Maramis,dll yang memberikan pondasi ideologi dan pemahaman pengikutsertaan kaum perempuan dalam pergerakan nasional.

Ketika feminisme beserta isu gender ramai diperbincangkan beberapa tahun terakhir ini, para perempuan dan Ibu-Ibu tahun 1910-an sebenarnya telah menunjukkan eksistensinya, membuktikan diri secara aktif mereka memiliki hak dan kekuatan sama, dan memiliki peran penting yang sama tak kalah dengan laki-laki dan bapak-bapak, mampu memberikan kontribusi bagi lingkungannya.

Hanya saja cukup disayangkan sebenarnya, dengan heroisme kaum perempuan zaman dulu dan sekarang di ranah publik, sebenarnya tak berbanding lurus tentang Ibu dalam ranah privat. Terutama dengan standar ganda yang disematkan kepada sosok Ibu masa kini, Ibu dalam ranah privat tetaplah Ibu. Ada Ibu yang sampai begitu depresinya menginginkan seorang Ibu (entah anaknya/menantunya) menjadi ”lebih Ibu” atau ”sangat Ibu” atau ”ibu banget”. Beberapa kasus menyebutkan seorang Ibu belum menjadi ”Ibu yang sebenarnya” ketika ia tak punya anak, dan hal tersebut didukung oleh lingkungan disekitarnya.

Ada seorang Ibu hidup dalam hubungan abusive bersama si pasangan, namun hebatnya masih merasa beruntung, masih dapat menjadi ”Ibu yang sebenarnya”, bersama kedua anaknya. Kasih Ibu sepanjang jalan, namun tragis, bayang derita mengikuti dibelakangnya.

Ada ibu-ibu yang meratapi kesepian dalam kesendiriannya dan yakin bahwa ibu-ibu lainnya lebih bahagia dari mereka dengan keluarga yang lengkap, padahal yang mereka yakini itu adalah ilusi semu konsep kebahagiaan yang seharusnya bersifat individual, namun justru diputar balikkan dengan standar norma masyarakat.

Apa yang menjadikan seorang Ibu lebih Ibu dari Ibu yang lainnya? Terlalu arogan seandainya kita menganggap diri kita lebih bahagia dari orang lain.

Ada seorang Ibu dengan belasan bahkan puluhan anak yang dirawat dalam sebuah rumah sederhana dengan kasih sayang dan tak membeda-bedakan. Sebuah kisah nyata dengan tokoh nyata pengabdian perempuan mempersiapkan generasi selanjutnya.

Seorang anak berlari kecil menghampiri perempuan yang ia sebut Ibu, dengan ekspresi keingintahuan, ia menanyakan mengapa teman-teman lain punya orangtua dengan komposisi Ibu-Ayah, sedangkan ia hanya punya Ibu seorang. Seandainya saja gadis kecil itu memahami kalimat :

”Dalam kehidupan ada dua macam ibu. Ibu yang pertama adalah ibu yang melahirkan anaknya. Ibu yang kedua, adalah ibu yang merelakan kebahagiannya sendiri untuk anak orang lain dengan rasa bahagia pula.”

(Dua Ibu – Arswendo Atmowiloto)

Catatan: Bahkan berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung No.6 Tahun 1983, memungkinkan seorang lajang untuk melakukan adopsi – menjadi ibu

Selamat hari Ibu bagi para Ibu.

NOSTALGI HAWA PAGI

Tag

, , , , ,

”Stereotype itu seperti perangkap yang dapat membuat siapa saja terjebak didalamnya” – Sharon Bagley
 
Sabda alam didendangkannya,
Berkisah kasta pria dan wanita
Perempuan berkacamata itu membuka sepatunya
ia bersila di atas meja,
for sake berulang-ulang diserukannya
demi…demi…demi…, tambahnya
demi kepentingan, katanya
kemudian menjadi pertanyaan utama
demi kepentingan siapa?
 
Menjadi pembuka hari
Menjadi pembuka nurani
Kapan lagi kita terkagum oleh pikiran sendiri
Seperti proses terbangun dari mimpi
Menyadari adanya hegemoni hingga belajar literasi
Menelusuri histori hingga masa kini
 
Gender
Jender
Demi eksotisnya bunga jengger
Gurih keripik ceker
Maknyus tumis sayur genjer
Tak ada yang keblinger
 
Dari ideologi sampai sosialisasi
Tentang internalisasi sampai diskriminasi
Padahal itu refleksi
Eh…, malah dituduh sayap kiri
 
Derrida, Saussurean, Lacan
Halah you kebarat-baratan!
Barat darimana, men!
Justru ini paling tulen
 
Kartini saja dibilang skenario Belanda
Mungkin tidak, mungkin iya
Apa mungkin karena sering surat-suratan sama orang sana?
Sehingga dinilai lak layak jadi tokoh emansipasi wanita Indonesia
 
Kartini bukan wanita
Ia perempuan
Ia masih remaja, dengan satu buku sudah cukup menggambarkan bakatnya
Mungkin kalau hidup jaman sekarang sudah jadi sastrawan
Sayangnya literatur lokal kurang mendukung suara sang hawa
Bahkan sampai saat ini wacana asing mendominasidari teori sampai penelitian
Seandainya saja ia sempat nguri-uri Centhini yang jadi aset bangsa
Tentu saja skeptis adalah keharusan jika ingin mencari kebenaran
Namun sulit dipungkiri pemikirannya luar biasa melampaui usia dan masa
Ada satu nafas universal yang juga diyakini para mainstream perempuan ,
bahwa pengalaman perempuan memiliki kesamaaan, semangat yang sama
 
Sejak berdirinya Kalingga
Begitu kondang keadilan Maharani Sima,
Bertahtanya Tribhuwana,
Atau bahkan jauuuhhh di suatu masa,
di zaman manusia gua
Awal ditemukan kapak candrasa,
menuju perlawanan terhadap penjajah yang semena-mena
Perjuangan heroik Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia
Bukan satu-satunya
Ada sekolah Dewi Sartika
1928 diadakan Kongres Perempuan Indonesia
Jika ada gerakan chipko, perempuan pemeluk pohon di India
Disini, banyak perempuan pemeluk bumi kita punya,
Melaut dari Tanjung Bira ke Flobamora,
ada generasi penentang buldozer perusak pegunungan Molo oleh Mama Aleta
Kearifan lokal itu tidak buta
sudah sejak lama ditunjukkan perempuan desa & kota
 
Tidak dari Amerika atau Eropa
Bukan bikinan Afrika maupun Australia
Sudah ada pada setiap nyawa yang dihembuskan ke dunia
Bahkan sebelum eksistensinya
Hanya tak pernah disadarinya
di Indonesia memang tak bernama
Malah tak perlu diberi nama
Atau justru tak perlu ada sebenarnya
Apabila segalanya berjalan sebagaimana mestinya
Sudah lebih dari cukuplah pakai Pancasila
 
Siapa sih feminis?
Ada yang bilang gerakan separatis
Sekumpulan perempuan bengis
Terluka, patah hati, cinta teriris-iris
Pokoknya najis
Sejarah hidupnya tragis
Penderita kudis
Bau amis
Kayak sampah untuk dikais
Tapi pengen jadi ratu Balqis
Jiakakakkk komennya sadis-sadis
 
Begitulah adanya
Ada yang mencerca
Ada yang legawa
Ada yang merana
Ada yang bersikap bagai resi Bisma yang mendua
Ada yang berjalan diatas marka
Adapula yang menebarkan kebencian ultra
Sulit untuk membuka mata
Padahal ini konsep sederhana
Bukan juga wabah rubela
 
For sake memang tak semanis milkshake
 
Foucault mengatakan
Kekuasaan sama dengan pengetahuan
Dimana ada perbedaan maka muncul kekuasaan,
dimana ada kekuasaan maka ada penolakan
 
Mengekspresikan hak yang paling hakiki,
bahwa setiap perempuan berhak mendefinisikan kesetaraannya sendiri
merengkuh perbedaan ciptaan Ilahi
dalam nostalgi hawa pagi
 
Hari itu ditutup dengan syahdu
Sang guru tutup buku, buka pintu
Lupa tutup pulpen, sayang seribu sayang ia telah berlalu
 
-ditemani segelas susu di kota susu, 2013-
:mrgreen: 

MBAK KUNTI MENGAPA MASIH MENANGIS (LAGI) ?

Tag

, , ,

Bumbu tangisan menyayat hati hampir selalu ada dalam cerita-cerita tentang tokoh idola kita satu ini yang tak lekang dimakan android. Perempuan (katanya) satu ini selalu ada di hati dan di bulu kuduk kita masing-masing, akan tampil dengan perwujudan beragam di detik-detik penampakannya.

Menurut para saksi mata (entah kesaksian palsu atau asli), ada si A yang melihat mbak Kunti terbang sambil cekikikan dari pohon satu ke pohon lain, kemudian si B bersumpah melihat mbak Kunti sedang menangis tersedu-sedu dibawah pohon rindang, lalu si C malah melihat Kunti labil sedang menangis di atap rumah, sejurus kemudian melempari si C dengan kerikil, dan tiba-tiba cekikikan terbang menghilang ditelan super moon. Barangkali kita akan dengan mudah berasumsi bahwa mbak Kunti ketiga sedang mengalami kelabilan emosi atau PMS.

Para spesies adam bahkan tidak jarang menggambarkan perempuan yang sedang PMS ini seperti pembunuh bergergaji mesin seperti di Texas Chain Saw Massacre. Belum lagi kalau yang membawa gergaji mesin adalah mbak Kunti. PMS dan menstruasi bukanlah pengalaman yang menyenangkan terutama bagi mayoritas perempuan, sangat disayangkan apabila kemudian pengalaman ini dijadikan sebagai gurauan atau maupun hal sepele, beberapa diantaranya, dalam keadaan darurat harus meninkmati rasa sakit sampai pingsan, juga ada yang mendapatkan kejutan dua botol infuse pink, dan setelahnya bukan sulap bukan sihir, ia mampu mengubah urinenya menjadi warna strawberry atau framboze, bayangkan saja jika semua orang di dunia ini dapat menciptakan urine berwarna-warni, biru, hijau, bahkan pelangi tidak akan ada lagi kegiatan monoton di kamar mandi.

Ada spesies, ada kelas, ada stratifikasi, ada jenis kelamin, ada peran yang dimainkan. No woman, no cry. Budaya menentukan siapa kita, serta bagaimana kita berperilaku. Perempuan kuntilanak dan perempuan manusia merupakan cermin, masing-masing berlakon sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan, berdasarkan identitas yang disematkan kepada perempuan sebagai mahluk sentimentil & emosionil. Manifestasi maupun manipulasi, untuk memenuhi ekspektasi masyarakat tentang image sensitivitas perasaan kaum feminine. Sehingga akan cukup terkaget-kaget apabila kita melihat sebentuk spesies macho menangis sesenggukan dihadapan seseorang, walaupun sebenarnya tidak aneh juga. Maksudnya, siapa yang tidak akan menangis saat menonton hachiko atau dead poets society.

Penampilan kucel ala mbak Kunti, dengan rambut bergaya sasakan tajam ala Naruto (walaupun tidak semua), juga dirasakan terlalu ekstrim bagi penonton yang dibuatnya ketakutan, sebab tidak sesuai dengan tren. Sebab perempuan biasanya menyukai tren, biasanya laki-laki akan protes jika sang kekasih kok nggak kelihatan cute seperti si anu. Ekspektasi ini kalau tidak dipenuhi, bisa-bisa seperti berita tahun lalu, “seorang pria menganiaya kekasihnya, karena sang kekasih tidak minta izin saat memotong rambut panjangnya”. Dan mbak Kunti pun akhirnya terpaksa memilih berambut panjang.

Jika tidak, di film-film, dan menurut kepercayaan orang banyak, mbak Kunti digambarkan sebagai perempuan merana, ditinggalkan setelah disia-siakan, sampai dialam kuburpun masih menyandang duka lara dalam kesendirian (dan masih menangis (lagi)), sebagai cermin sosial atas penggambaran ketidakberdayaan kaum feminin, padahal kenyataan yang ada sebenarnya tidak seperti itu, melainkan ekspektasi yang terlalu hiperbolis diwujudkan dalam ilusi, manipulasi pikiran oleh alam melalui wujud mistis, tertipu sudah mata pikiran manusia.

Kesendiriannya dalam kesunyian juga mendapatkan perhatian, karena biasanya menurut orang-orang, perempuan adalah mahluk sociable, sehingga kalau kita tidak memenuhi rumus kurva normal, dengan kata lain minoritas, akan didapat label “berbeda”. Sama seperti para perempuan yang ingin eksis namun tidak sesuai norma disekitarnya, maka eksistensinya itu tidak akan diakui, sebab perempuan baru dapat menjadi subjek apabila ia tidak sendirian, dalam arti perempuan membutuhkan orang lain, atau embel-embel untuk mampu mendefiniskan dirinya. Mbak Kunti hampir selalu ada di tempat-tempat minus manusia (katanya), tempat dimana manusia selalu jauhi, takut akan aroma kesendirian, takut untuk bercermin kepada mbak Kunti.  Bahkan Nietzsche mengeluhkan betapa sukarnya hidup bersama manusia, karena keheningan merupakan sesuatu yang asing bagi manusia.

Kalau mbak kunti yang pernah saya tahu, ia lebih suka bermain ayunan malam-malam di pohon mangga, setelah sebelumnya, menjelang terbenamnya matahari, menebarkan keharuman khas rokok siong ke seluruh penjuru rumah hmm…