Animusparagnos’s Weblog

Kesetaraan Gender Adalah Sebuah Eksistensi

PENGUMUMAN (BUKAN LOWONGAN) DICARI……PROSPECTIVE HUSBAND!!! Mei 19, 2009

Diarsipkan di bawah: GENDER 2nd, KESETARAAN UNTUK PEREMPUAN — Animusparagnos @ 2:22 pm
Tags: , , ,

Prospective Husband (baca : Suami ideal & bermasa depan cerah), merupakan tema dari sebuah diskusi dimana pada saat itu kami diminta melakukan analisis tentang tipe suami yang prospektif ditinjau dari berbagai aspek baik secara materi, romantisme sampai psikologis. Target utamanya tentu saja para perempuan, walaupun dalam kesempatan tersebut ada juga peserta laki-laki. Tapi mengapa harus “prospective husband”? Mengapa yang muncul bukan tema prospective wife, atau prospective girl?

            Tidak bosan-bosannya saya membawa sistem patriarkal, stereotipe, dan segala keyakinan (beliefs) tentang perempuan, dan antek-anteknya itu berkali-kali harus duduk di kursi terdakwa sebagai biang keladi. Ya, para tertuduh itu menciptakan image perempuan yang tidak cukup prospektif dibandingkan dengan kaum lelaki. Dengan pencitraan perempuan sebagai sosok lembut, lemah, bukan dominator, membutuhkan guardian yang mampu menawarkan segala sumber untuk menjamin kebahagiaan perempuan. Seolah-olah menciptakan kesan tanpanya, si perempuan tidak mampu berpijak seorang diri menantang dunia.

            Ya, buntut-buntutnya menyinggung faktor ekonomi, ketika perempuan dipandang sebagai mahluk yang berorientasi terhadap duit, dan itu menjadi lelucon yang membuat seisi kelas tertawa.  Mengingatkanku saat menjadi volunteer untuk mengisi pertanyaan sebuah kuesioner, “Apakah calon suami anda harus memiliki deposito?”

 

Tertanda

Unprospective Woman

 

KESETARAAN GENDER MENCARI KESEIMBANGAN DALAM KEYAKINAN Mei 15, 2009

Diarsipkan di bawah: GENDER 2nd, KESETARAAN UNTUK PEREMPUAN — Animusparagnos @ 3:15 pm
Tags: , , , , ,

Kemunculan Peraturan Daerah (perda) pada beberapa wilayah di tanah air dan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (UU APP) menjadi perhatian masyarakat akibat pertentangan antara isi dan yang membuahkan pro kontra. Ketika pihak yang pro menyatakan UU ini sebagai perlindungan terhadap perempuan, sementara si kontra menyatakan UU APP dan sejenisnya justru menempatkan perempuan sebagai “terdakwa”. Bila dianalogikan, perempuan seakan-akan adalah barang di etalase berjalan, dengan “mereka” (laki-laki) sebagai pembeli yang berkuasa untuk memiliki barang itu. Barang yang membuat mereka menjadi bernafsu untuk memiliki, sehingga untuk menghindari tatapan ngiler mereka, barang ini harus ditutupi demi menjaga nafsu mereka. Kemudian siapa yang akan mempertanyakan “mereka”? Apakah tidak seharusnya bukan saja kepala tapi otak juga dipasangkan topi agar nafsu itu tidak muncul? Mana yang lebih masuk akal? Aku bukan penggemar bikini, tank top, maupun rokmini, tetapi sepertinya aku harus memasukkan diriku kedalam karung goni dan berjalan dengan melompat-lompat, itung-itung berlatih sebagai bakal pocong agar orang-orang itu berhenti menggangguku karena aku objek yang mereka sebut perempuan.       

Masih menjadi perdebatan yang menarik karena kontroversi yang tidak pernah usai, yaitu mengenai poligami. Pihak-pihak yang saling berseberangan memberikan argumen masing-masing demi mempertahankan kebenaran yang diyakininya. Tuduhan macam-macam terhadap kesetaraan gender kerap dilayangkan sebagai pihak yang menolak poligami. Bukan saja dianggap sebagai paham kaum barat yang menyebarkan hasutan kesetaraan, namun kami juga dianggap sebagai kaum murtad yang mengingkari agama. Bahkan sempat pula pada suatu mimbar dengan tema menanggapi fenomena poligami, seorang perempuan berkata bahwa lebih baik seorang perempuan menjadi istri kedua daripada menjadi lajang seumur hidupnya. Sedangkan lainnya berpendapat daripada berselingkuh lebih baik diikat saja sekalian dengan hubungan yang sah melalui poligami, sehingga halal di mata Tuhan. Ironis, poligami sebagai pembenaran dan pengesahan atas perselingkuhan dan predikat sebagai lajang dianggap sebagai aib perempuan. Bagaimana dengan keberadaan aturan tentang poligami itu? Memang ada, tetapi bagaimana tentang keberadaan penafsiran aturan itu? Zaman yang telah berubah, maka aturan itu ikut berubah, alasan kemanusiaan bukan menjadi justifikasi akan tindakan ber-poli-poli itu. Saat seseorang memilih untuk melakukan poligami, maka esensi cinta dan ikatan pernikahan itu perlu dipertanyakan kembali. Tidak benar anggapan tentang kesetaraan adalah bila jika laki-laki mampu berpoligami, maka perempuan juga harus bisa poliandri., karena esensi hubungan itu adalah kesetiaan dan kesetiaan tidak bisa dibagi seperti matematika, dan akan lebih indah bila dicapai dengan jembatan monogami.

Siang itu anak-anak belasan tahun memperoleh bahan pembicaraan baru, terilhami oleh pelajaran agama yang membahas tentang datang bulan A.K.A haid A.K.A menstruasi. Bukan hal baru  tapi masih terasa aneh untuk membicarakan urusan yang begitu pribadi. Sampailah pada perdebatan tentang helaian rambut yang jatuh saat sedang menstruasi. Katanya helaian rambut yang jatuh saat menyisir maupun memotong rambut kalau lagi “kedatangan tamu” itu dosa dan tiap-tiap helai rambut akan berubah menjadi api yang siap membakar pemiliknya.

Belakangan akhirnya aku tahu bahwa pendapat semacam itu berasal dari mazhab yang tidak jelas, tidak berdasar walaupun tetap saja masih menimbulkan pro kontra di kalangan para ulama maupun orang-orang yang lebih agamais disekitarku karena penafsiran setiap otak yang berbeda dengan mengandalkan nalar dan logika.  Dan aku diantara mereka itu hanya bertanya dalam hati, apakah sebenarnya salah helai-helai rambutku.

Jika setiap helai rambut yang terjatuh itu menjadi api yang bisa membakarku kelak, jangankan hanya sehelai rambut yang jatuh, tercipta sebagai seorang perempuan pun itu sudah merupakan dosa.

                    

“Tiada keraguan atas agama dan kitabku, hanya buah otak  mereka  yang membuatku ragu”

                                 Saat kebenaran itu menjadi absurd

 

EMANSIPASI UNTUK KARTONO DALAM MOMEN KARTINI April 23, 2009

Diarsipkan di bawah: GENDER 2nd, KESETARAAN UNTUK PEREMPUAN — Animusparagnos @ 3:58 pm
Tags: , , , , ,

Waktu untuk memakai kebaya seperti nenek-nenek kita atau perempuan-perempuan zaman baheula, karnaval murid-murid TK berkeliling sambil melambaikan tangan, cuma sayangnya bertepatan dengan jadwal UNAS yang sedang tegang-tegangnya. Tepatnya pada 21 April, momentum spesial bagi bangsa Indonesia apalagi untuk kaum perempuan Indonesia baru saja merayakan hari emansipasinya, hari Kartini. Kartini, perempuan Indonesia, berdiri diantara keangkuhan kolonialisme, berada dalam himpitan tembok keningratan, berjuang dengan diri dan tradisi untuk menggapai impian perempuan yang termarginalkan dari dunia publik sebagai dunia laki-laki.

Dari masa ke masa, impian Kartini untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi dan bisa ikut berpartisipasi dalam ranah publik, tampaknya bukan lagi menjadi bunga tidur yang sulit untuk direalisasikan. Guru, pengemudi busway, tukang ojek, polisi, sampai presiden bisa dilakukan oleh perempuan masa kini, walaupun kita tidak bisa sepenuhnya mengatakan sebagai kemajuan karena rantai patriarki sebenarnya telah menemukan model baru, tetaplah pencapaian para perempuan itu bisa kita sebut sebagai emansipasi. Namun apakah emansipasi hanya milik kaum perempuan? Bila perempuan punya Kartini, apakah laki-laki punya Kartono?

Mungkin laki-laki tidak memerlukan sosok Kartono, sebab tanpa seorang Kartono pun mereka sudah dibanggakan sebagai sosok superior, setidaknya itulah harapan masyarakat. Entah apa laki-laki sendiri menginginkan emansipasi seperti perempuan untuk kemudian banting setir masuk dapur. Yang jelas, salah satu Kartono yang kukenal, setiap hari minggu dulu selalu memasak nasi goreng untuk kami, memberi aku mainan mobil-mobilan, tidak malu mencuci baju anak dan istrinya, mem-blender juice tomat untuk aku dan Ibu, bahkan akhir-akhir ini yang kulihat adalah mencuci piring makannya sendiri.

Emansipasi yang tidak hanya dinikmati oleh kaum perempuan (^_^)!?! Atau barangkali sebagian orang menganggapnya sebagai sebuah ketidakpantasan atas nama maskulinitas, laki-laki itu pemimpin, gengsi lah kalau laki-laki masuk dapur mengerjakan “kewajiban perempuan”.

Satu hal yang harus aku ucapkan, Selamat hari Kartini dan Kartono.

Satu hal yang harus aku lakukan, aku harus segera mencuci piring makanku……! (Apa kata Kartono nanti)

-Animusparagnos-

 

PUBERTAS & MENARCHE, AWAL RAHIM SEORANG PEREMPUAN MENJADI MILIK DINASTI PATRIARKI April 20, 2009

Diarsipkan di bawah: GENDER 2nd — Animusparagnos @ 9:33 pm
Tags: , , , , , ,

Para remaja, baik itu perempuan maupun laki-laki keduanya tentu akan melalui fase pubertas, yaitu perubahan-perubahan pada tubuh dan hormonal sebagai tanda kematangan fisik. Khusus bagi para remaja perempuan, pada saatnya ia akan mengalami menarche atau menstruasi pertama. Menstruasi merupakan tanda kesiapan biologis seorang perempuan menjalani fungsi kewanitaannya (Kartono, 2006). Peristiwa yang dipahami masyarakat sebagai tanda seorang gadis memasuki alam kedewasaan, yaitu alam “wanita”.

 Hari itu datang lagi, hari yang mau tak mau kunanti. Rahimku terasa dicekik oleh seluruh otot tubuhku sendiri. Rasa sakit itu mendekap, seolah menyayat-nyayat tiap lekuk organ dalamku, nyeri yang membuatku jadi orang tuli yang penuh dengan amarah. Kemudian pelan-pelan serasa mengalir menyusuri lambung, dada, dan kerongkonganku, tercekat oleh rasa mual, dan pyuh…, sementara mulutku tidak mampu menghentikan laju sisa-sisa gumpalan-gumpalan bahan organik yang masuk ke lambungku!

“Eh, nggak boleh loh minum obat pereda nyeri haid, nanti bisa bikin rahim kering. Kamu minum berapa kali sehari? Ha.., 3 kali sehari? Nggak usah pake obat, jamu aja, itu loh kunyit asem.”

Terhitung 98.755 orang berkata hal yang sama (sebenarnya nggak pernah itung-itungan sih, sekedar prediksi yang hiperbolis, tapi siapa yang peduli? Sama dengan siapa yang peduli dengan sakit itu, karena mereka lebih peduli dengan keselamatan si rahim). Ada benarnya ramuan herbal lebih aman dari racikan bahan-bahan kimia, tapi tahukah ia kalau jamu-jamu tetek bengek itu sudah tidak mempan untuk tubuhku, lagipula om dokter sudah bilang kok kalau sakit itu akan berangsur-angsur hilang dengan mengkonsumsi obat pereda nyeri.

Mengenaskan saat takdir menjadi pesakitan itu serasa menjadi konsekuensi. Seolah-olah perempuan adalah ternak yang bertugas membudidayakan gen-gen penerus ideologi konservatif itu, dengan rahim sebagai mesin reproduksi untuk dijaga agar tidak aus walaupun harus menjadi pesakitan.

Aku perempuan, empu dari rahim ini, organ yang hidup didalamku, bukan aku yang hidup didalamnya. Saat sebagian perempuan memilih untuk bertahan dan mentertawakan rasa sakit itu (mereka ini orang yang kuat, salut untuk perempuan-perempuan itu), dan saat sebagian kaum laki-laki (kaum yang tidak pernah merasakan sakit itu) merasa iri karena menganganggap menstruasi adalah ajang untuk membolos, santai di rumah, Aku hanya bertanya bagaimana bisa berhenti menjadi pesakitan? Titik!!! Karena menarche dan pubertas 10 tahun yang lalu bukan takdir yang menjadikan aku “wanita” dan pasarah untuk dicekoki doktrin keibuan dan patriarki. Tidak berhak-kah aku menolak menjadi seorang masokis yang demi mempertahankan alat patriarki dan konsekuensi sebagai “wanita” itu.

Aku tidak bermaksud mengingkari takdir dan anugerah karena berkelamin perempuan ataupun klaim atas kondisi biologi sebagai penyebab dari opresi terhadap kaum perempuan, tetapi bagaimana memaknai tubuh dan pikiran perempuan sebagai SUBJEK.

 

Karena tubuhnya adalah miliknya,

dan rahimnya adalah rahimnya

Bukan konsekuensinya, melainkan keistimewaannya

Bukan keharusannya, melainkan haknya

 

SEKALI LAGI, MARTIR ITU ADALAH PEREMPUAN Maret 2, 2009

Diarsipkan di bawah: GENDER 2nd — Animusparagnos @ 10:02 am
Tags: , , , ,

16 Februari 2009, di sebuah surat kabar, diberitakan seorang balita dinyatakan positif terinfeksi HIV. Rupanya Ibu dan Ayahnya juga telah terinfeksi virus tersebut sebelumnya. Si Ibu tertular dari Ayah yang kemudian menularkan kepada balita berusia 11 bulan itu. Pada survey yang dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) sampai pada tahun 2009, jumlah pengidap HIV/AIDS semakin melambung. Pada tahun 2008 dari data statistik didapati sekitar 16.110 orang penderita, sedangkan tahun 2007 lalu ada 11.141 orang, menunjukkan dalam kurun waktu satu tahun meningkat sebanyak 4969 orang penderita. Yang baru adalah angka penularan oleh Ibu ke anak semakin tingg. Menurut Nafsiah Mboi, sekretaris KPA, fenomena ini menggambarkan suami yang melakukan seks di luar pernikahan telah menularkan virus ini kepada istrinya dan akhirnya berdampak pada penularan terhadap anak.

Disini bentuk internalisasi pengabdian perempuan untuk keluarganya, sebagai pemenuhan ekspektasi masyarakat atas sosok Istri dan Ibu yang baik. Perempuan diharapkan menjadi pengikut yang baik yang bersikap nrimo, sebab swargo manut, nraka katut. Maka norma itu kemudian dipahami dengan semena-mena oleh laki-laki, yang berujung pada perilaku infidel (ketidaksetiaan), dengan berpaling mencari pemenuhan kebutuhan biologis pada perempuan lain. Tetapi lagi-lagi image negatif seringkali dialamatkan pada perempuan, sebagaimana kasus KDRT dengan perempuan sebagai korban dengan angka yang tinggi. Kok mau diselingkuhi? Kok mau dipukuli? Salah sendiri, nggak bisa jaga suami! Lebih ringan justru stigma yang melekat pada laki-laki, seolah menjadi pembenaran atas tindakan yang sewenang-wenang, adalah sudah menjadi rahasia umum, wajar bila laki-laki berperilaku sedikit “nakal”, namanya juga laki-laki.

Dan inikah buah kesetiaan seorang istri, menjadi martir untuk suaminya?

Jangan sampai institusi pernikahan menjadi martyrdom (pengorbanan total) bagi perempuan maupun pihak manapun. Institusi pernikahan seharusnya mampu menjadi pengikat keharmonisan istri dan suami, disitulah setiap individu harus mampu memaknai sebuah kesetiaan yang berlandaskan kesetaraan.

 

SAAT KEPAHLAWANAN KARTINI DIGUGAT Februari 22, 2009

Diarsipkan di bawah: GENDER 2nd — Animusparagnos @ 6:27 pm
Tags: , , , ,

Ibu Kartini yang telah lama dinobatkan sebagai pahlawan, menuai “rasan-rasan” sampai protes keras dari sebagian orang, beberapa diantaranya malah perempuan. Kartini dianggap sebagai pahlawan kesiangan yang tidak layak dikagumi karena perjuangannya dianggap bukan demi kemanusiaan namun hanya demi kepentingannya sendiri karena pasungan tradisi dan budaya patriarki kebangsawanan. Apalagi kemudian Kartini memutuskan untuk menerima aturan dan tradisi yang dibebankan padanya, bersedia menuruti adat bangsawan Jawa sampai mau menikah dengan bupati Rembang yang dijodohkan kepadanya. Keputusannya itu membuat ia harus melepaskan impian untuk menimba ilmu di negeri Belanda dan menjadi perempuan intelektual yang bebas. Pilihan perempuan ini, yang diartikan sebagai kepasrahan, membuat beberapa orang kini semakin meragukan kontribusinya untuk perempuan dan masyarakat, sehingga ia kemudian harus rela dibanding-bandingkan dengan para pahlawan perempuan lain, serta 21 April yang menjadi hari kebesaran untuknya dan para perempuan Indonesia dianggap tidak layak.

Kartini yang terlahir sebagai putri kaum borjuis Jawa, sebenarnya sama dengan perempuan kebanyakan lain pada masa itu. Perbedaan kelas sosial dan ekonomi memang menjadi salah satu indikasi bahwa diskriminasi atau perlakuan gender yang diterima bisa berlainan antara satu orang dengan yang lain, tetapi tidak signifikan. Budaya patriarki tradisional dalam kehidupan masyarakat Jawa pada zaman dahulu masih sangat terasa dan diagungkan oleh masyarakat. Perempuan berperan sebagai konco wingking suami yang setia melayani suami sebagaimana suami adalah seorang tuan, otomatis membatasi perempuan dalam setiap segi kehidupan dengan meletakkan perempuan pada posisi kelas dibawah laki-laki.

Hasrat dan semangat Kartini menjadi inspirasi yang memotivasi kaum perempuan bahwa mereka bukan warga kelas dua, dan sebagaimana kaum laki-laki, perempuan berhak mendapatkan kesetaraan atas pemikiran dan tindakannya. Banyak perempuan yang merasakan opresi itu, namun hanya segelintir yang berani bersuara dan menggugatnya, dikarenakan ketidakpahaman maupun rasa takut. Bila kemudian Kartini memilih untuk mengubur impiannya dan menuruti tradisi, maka itu adalah pilihannya. Pilihan yang dianggap sebagian orang ironis, menimbulkan sinisme, dan dianggap suatu ketidakpantasan baginya menyandang gelar pahlawan emansipasi. Pilihan itu memang bukan konsistensinya, pilihan itu tidak menunjukkan kegarangannya, tetapi pilihan itu mampu ditoleransi dan dimaknai olehnya maka itu adalah eksistensinya.

Tujuan dari kesetaraan gender sebenarnya adalah bagaimana perempuan dapat mencapai eksistensinya melalui kebebasan berpikir, membuat keputusan, dan merasa nyaman dengan diri dan pilihannya, bukan menentukan atau mengharuskan perempuan menjadi figur si A, si B.

Proses yang dijalaninya untuk melepaskan belenggu sistem dan praktik gender telah lebih dari cukup menjadi bukti sebagai kontribusi atas wacana kesetaraan gender, berikut sistem dan praktik pada masa itu, sehingga mampu menjadi pelajaran berharga pada periode selanjutnya.

Seseorang tidak perlu harus maju ke medan perang untuk bisa disebut pahlawan. Dan Kartini tidak pernah melakukannya, tidak pernah pula meminta dianugerahi gelar pahlawan, ia bahkan tidak pernah mengira ada momen-momen dalam hidupnya yang menjadikannya kelak sebagai pahlawan.

Teruntuk mereka yang merasa 21 April bukan hari spesialnya, dan Kartini tidak dapat menjadi pahlawannya, paling tidak setiap perempuan harus mampu merasa dan menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri, coz hero lies in you.

 

KALA BUDAYA ANTRI TELAH MATI Februari 12, 2009

Diarsipkan di bawah: KALATHIDA — Animusparagnos @ 4:31 pm
Tags: , , ,

pelanggaran-31

 

PEREMPUAN-PEREMPUAN TULANG RUSUK ITU MENJADI TULANG PUNGGUNG KELUARGA Februari 6, 2009

Diarsipkan di bawah: GENDER 2nd — Animusparagnos @ 9:37 am
Tags: , , , ,

Sepenggal berita di sebuah stasiun televisi beberapa hari yang lalu, mengisahkan tentang seorang perempuan tengah baya bernama Ina (ibu) Fatma seorang penjual ikan keliling di belahan Indonesia Timur, pekerjaan ini dilakukannya setiap hari untuk menghidupi anak-anaknya, sebab si suami memutuskan untuk menikah lagi, sehingga tidak mungkin ia hanya mengandalkan suami yang telah memiliki keluarga lain.

Sementara cerita lain datang dari tanah Jawa, kali ini mengangkat kisah seorang ibu muda sebut saja Sri, ia bekerja menjadi pembantu rumah tangga, dengan alasan yang sama, membutuhkan biaya untuk anak dan keluarganya, apalagi dengan status perkawinannya yang tidak jelas, gara-gara si suami minggat entah kemana dan selama bertahun-tahun tidak pernah memberikan kabar.

Ironi datang ketika beberapa orang menyerukan bahwa gender tidak perlu dipermasalahkan, problema gender dianggap menjadi topik yang sudah usang, atau alasan yang bersifat lebih menenangkan bahwa manusia (perempuan dan laki-laki) telah memiliki tempatnya sendiri dan sudah setara sejak dahulu di mata Tuhan. Namun disini kita tidak berbicara tentang hakikat manusia, tetapi realita disekitar kita menjawab apakah kesetaraan itu sudah terlaksana atau belum. Berkoar-koar tentang hakikat manusia itu mudah, “anak kecil juga tahu!” Yeah, equality lies in you! Kesetaraan gender itu memang telah tertera dalam konstruksi alam made in Yang Maha Kuasa (dan aku sama sekali tidak pernah memiliki keraguan tentang ini) tetapi sudahkan hak tersebut berpihak pada Ina Fatma, Sri, dan sekian juta perempuan lain di Indonesia, terutama dengan kondisi Indonesia (sosial, politik, ekonomi, budaya) yang masih labil saat ini, sebab pada praktiknya hasilnya nihil.

Dimana saat disana-sini perempuan bekerja dianggap sebagai pelengkap, bukan the hero dalam keluarga, suatu kebohongan publik saat masyarakat menyangkal bahwa sebenarnya banyak perempuan justru bukan hanya pengelola rumah tangga, bahkan berperan sebagai pencari nafkah, khususnya pada masyarakat dengan taraf perekonomian yang masih rendah. Sebuah kebohongan dalam hubungan perkawinan saat perempuan diposisikan sebagai warga kelas dua. Perempuan dipandang sebagai kaum yang lemah (nurut binti nrimo), naturalisasi yang membuat perempuan rentan dengan deraan diskriminasi serta ketidakadilan perlakuan gender, seperti halnya kisah-kisah klise Ina Fatma dan Sri diatas yang berbumbu pengingkaran komitmen yang telah dibuat sebelumnya, dan tindak poligami itu tidak lebih dari justifikasi (pembenaran) dari ketidaksetiaan.

Ina Fatma mungkin sampai sekarang masih berkeliling menjajakan ikannya demi mendapatkan beberapa rupiah agar dapur tetap mengepul dan untuk biaya sekolah anak-anaknya, sedangkan Sri akhirnya membeli surat cerai, daripada mengharap laki-laki yang dulu pernah dipanggilnya sebagai suami itu kembali. Hidup terus berjalan dengan pilihan-pilihan itu. Sebuah kehidupan keras yang dijalani perempuan-perempuan tulang punggung keluarga yang tidak lebih hanya diakui sebagai mahluk yang berasal dari tulang rusuk lelaki yang tersia-siakan.

- Animusparagnos -

 

KESETARAAN GENDER, PERSAMAAN ATAUKAH KESEJAJARAN Januari 28, 2009

Diarsipkan di bawah: GENDER 2nd — Animusparagnos @ 12:22 am
Tags: , ,

Makna kesetaraan pada dasarnya adalah subjektif, setiap kepala bisa memiliki isi yang berbeda. Seorang mengatakan persamaan, seorang mengatakan kesejajaran, seorang lagi menyerukan keseimbangan, dan sebagainya.

Ingin dikatakan persamaan, namun ada benturan fisiologis, bilamana laki-laki tumbuh jakun-nya, maka perempuan sibuk dengan siklus menstruasinya. Di sisi lain muncul pendapat tentang kromosom perempuan dan laki-laki yang ternyata tidak jauh berbeda. Protes kemudian muncul, perempuan diserukan sebagai mahluk yang tetap tidak mampu menjadi peronda malam, sebab dikatakan bila perempuan memang menginginkan kesetaraan, ia juga harus menerima kewajiban yang sama, bukan mendapatkan keistimewaan. Siapa juga kemudian yang harus melaksanakan tugas reproduksi meneruskan regenerasi “omnipotent” maupun “envy” berikutnya :-? .

Lalu muncul ide, berbeda tapi sejajar. Perempuan dan laki-laki memang berbeda, namun kedudukannya sejajar. Masing-masing dikatakan bisa berperan optimal dalam ranahnya sendiri, sebab ada suatu garis yang terlampau sulit untuk dilalui keduanya. Tetapi untuk menjadi manusia yang berfungsi sepenuhnya terkadang membutuhkan sikap rebel, ketika eksistensinya menuntut untuk melalui garis itu.

Kesejajaran adalah mutlak dan bila ada kesamaan yang mampu dipersamakan maka itu bisa menjadi persamaan (Animusparagnos)

 

PRASANGKA ATAUKAH REALITA PUTAR BALIK PERAN PEREMPUAN DALAM LINGKARAN GENDER Januari 27, 2009

Diarsipkan di bawah: GENDER 2nd — Animusparagnos @ 2:42 am
Tags: , , ,

Kutipan dari sebuah rubrik konsultasi :

……saya ibu dua putri berusia 6 dan 4 tahun. Saya bekerja di perusahaan, berangkat pukul 08.00 dan tiba di rumah kurang lebih pukul 18.00. Sepulang kerja, saya masih harus menemani anak-anak main, belajar.

Mereka sering berantem dan hampir tiap hari ada saja yang menangis. Suami tidak mau tahu. Begitu datang langsung mandi, lalu baca koran/main game/nonton TV. Sepertinya, semua urusan rumah dan anak menjadi tanggung jawab saya.

Padahal, saya kerja karena gaji dia tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Bila saya ingatkan atau minta tolong, dengan enteng dia menjawab “capek”. Saya baru bisa mandi dan makan setelah anak-anak tidur.

Akhir-akhir ini, saya stress sekali, bingung antara kerja, kebutuhan, ketenangan, jengkel, dan sumpek. Pokoknya, ruwet sekali…..

Sumber : Jawa Pos, Senin 26 Januari 2009