Para remaja, baik itu perempuan maupun laki-laki keduanya tentu akan melalui fase pubertas, yaitu perubahan-perubahan pada tubuh dan hormonal sebagai tanda kematangan fisik. Khusus bagi para remaja perempuan, pada saatnya ia akan mengalami menarche atau menstruasi pertama. Menstruasi merupakan tanda kesiapan biologis seorang perempuan menjalani fungsi kewanitaannya (Kartono, 2006). Peristiwa yang dipahami masyarakat sebagai tanda seorang gadis memasuki alam kedewasaan, yaitu alam “wanita”.
Hari itu datang lagi, hari yang mau tak mau kunanti. Rahimku terasa dicekik oleh seluruh otot tubuhku sendiri. Rasa sakit itu mendekap, seolah menyayat-nyayat tiap lekuk organ dalamku, nyeri yang membuatku jadi orang tuli yang penuh dengan amarah. Kemudian pelan-pelan serasa mengalir menyusuri lambung, dada, dan kerongkonganku, tercekat oleh rasa mual, dan pyuh…, sementara mulutku tidak mampu menghentikan laju sisa-sisa gumpalan-gumpalan bahan organik yang masuk ke lambungku!
“Eh, nggak boleh loh minum obat pereda nyeri haid, nanti bisa bikin rahim kering. Kamu minum berapa kali sehari? Ha.., 3 kali sehari? Nggak usah pake obat, jamu aja, itu loh kunyit asem.”
Terhitung 98.755 orang berkata hal yang sama (sebenarnya nggak pernah itung-itungan sih, sekedar prediksi yang hiperbolis, tapi siapa yang peduli? Sama dengan siapa yang peduli dengan sakit itu, karena mereka lebih peduli dengan keselamatan si rahim). Ada benarnya ramuan herbal lebih aman dari racikan bahan-bahan kimia, tapi tahukah ia kalau jamu-jamu tetek bengek itu sudah tidak mempan untuk tubuhku, lagipula om dokter sudah bilang kok kalau sakit itu akan berangsur-angsur hilang dengan mengkonsumsi obat pereda nyeri.
Mengenaskan saat takdir menjadi pesakitan itu serasa menjadi konsekuensi. Seolah-olah perempuan adalah ternak yang bertugas membudidayakan gen-gen penerus ideologi konservatif itu, dengan rahim sebagai mesin reproduksi untuk dijaga agar tidak aus walaupun harus menjadi pesakitan.
Aku perempuan, empu dari rahim ini, organ yang hidup didalamku, bukan aku yang hidup didalamnya. Saat sebagian perempuan memilih untuk bertahan dan mentertawakan rasa sakit itu (mereka ini orang yang kuat, salut untuk perempuan-perempuan itu), dan saat sebagian kaum laki-laki (kaum yang tidak pernah merasakan sakit itu) merasa iri karena menganganggap menstruasi adalah ajang untuk membolos, santai di rumah, Aku hanya bertanya bagaimana bisa berhenti menjadi pesakitan? Titik!!! Karena menarche dan pubertas 10 tahun yang lalu bukan takdir yang menjadikan aku “wanita” dan pasarah untuk dicekoki doktrin keibuan dan patriarki. Tidak berhak-kah aku menolak menjadi seorang masokis yang demi mempertahankan alat patriarki dan konsekuensi sebagai “wanita” itu.
Aku tidak bermaksud mengingkari takdir dan anugerah karena berkelamin perempuan ataupun klaim atas kondisi biologi sebagai penyebab dari opresi terhadap kaum perempuan, tetapi bagaimana memaknai tubuh dan pikiran perempuan sebagai SUBJEK.
Karena tubuhnya adalah miliknya,
dan rahimnya adalah rahimnya
Bukan konsekuensinya, melainkan keistimewaannya
Bukan keharusannya, melainkan haknya